Menghubungkan Isi Puisi dengan Realita Alam dan Sosial Budaya

Posted by Unknown Tuesday, March 5, 2013 0 comments

Menghubungkan Isi Puisi dengan Realita Alam





Menghubungkan Isi Puisi dengan Realita Alam dan Sosial Budaya


Sebagaimana anda ketahui, puisi ditulis berdasarkan inspirasi yang didapat oleh penyairnya melalui pengamatan atau perenungan atas lingkungan sekitar. Contohnya, puisi yang menceritakan kesedihan yang sangat mendalam. Puisi tersebut dibuat atas dasar perasaan dan kehidupan si penyair yang mungkin mempunyai kenangan kesedihan yang begitu mendalam. Kesedihan itulah yang menginspirasi penyair, perasaannya dicurahkan ke dalam bait-bait puisi.





Contoh lain, sering kali puisi muncul sebagia bentuk kritikan yang ditujukan kepada pemerintahan. Puisi tersebut dibuat oleh sang penyair berdasarkan inspirasi atas beratnya kehidupan dalam pemerintahan yang kurang tegas dalam menjalankan hukum, banyak permasalahan, dan sering muncul kerusuhan termasuk tindak korupsi oleh pemerintahan, yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Sama halnya dengan lirik lagu Iwan Fals yang dibuat untuk mengkritik pemerintah.





Dengan demikian, seorang penyair tidak dapat dilepaskkan dari kondisi kehidupan alam sekitar, termasuk juga keadaan alam tempat penyair itu berada. Benda-benda dan suasana di sekelilingnya sering kali dipergunakan penyair untuk mengekspresikan perasaan ataupun pikiran-pikirannya.





Perhatikan puisi berikut.





SENJA DI PELABUHAN KECIL


            Buat Sri Ayati





Ini kali tidak ada yang mencari cinta


di anatara gudang, rumah tua, pada cerita


tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut,


menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut





Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang


menyinggung muram, desir hari lari berenang


menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak


dan kini tanah, air tidur, hilang ombak.





Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan


menyisir semenanjung, masih pengap harap


sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan


dari pantai ke empat, sedu penghabisan bisa terdekap.


                                                                                                                    (Chairil Anwar, 1946)





Untuk dapat menghubungkan isi pusi dengan realitas alam dan atau realitas sosial budaya, yang perlu diketahui pertama kali adalah isi puisi itu sendiri. Pahamilah bait isi puisi dengan cara mengartikan kata-kata konotasi, kata yang bermakna lambang, ataupun dengan cara memparafrasekan puisi tersebut.





Setelah memahami isi puisi atau perasaan yang ingin disampaikan penyair, langkah selanjutnya mencari realitas alam. Maksudnya, penyair mencurahkan puisi sering kali menggunakan perwakilan benda-benda ataupun suasan lingkungan alam sekitar. Selanjutnya menghubungkan isi puisi dengan realitas alam yang tergambar dalam puisi tersebut, mengapa penyair memilih perwakilan benda-benda tertentu ataupun suasana tertentu yang dirasa paling tepat untuk mewakilkan perasaannya.





Alur: Temukan makna puisi – Cari benda ataupun suasana yang menjadi perwakilan hati – hubungkan pemilihan benda tersebut dengan isi atau perasaan sang penyair.


Contoh:



 


Menemukan makna puisi


Puisi di atas kurang lebih menggambarkan suatu perasaan kesedihan sang penyair yang belum juga menemukan cintanya. Hanya kesendirian yang dirasakan penyair, dalam kesepian dan kesunyian, tak ada yang mau menolong.





Perwakilan benda dan suasana


Penyair menuliskan kesedihan hatinya dengan perwakilan kata 1) gudang, rumah tua, tiang serta temali, 2) Kapal, perahu, tiada berlaut, 3) Suasana gerimis mempercepat kelam, 4) kini tanah, air tidur, hilang ombak.





Hubungan perwakilan benda dengan isi puisi


Inilah inti atau pangkal dalam materi ini. Di sini, kita dituntut untuk mampu mencari hubungan “mengapa penyair menggunakan kata itu (benda/suasana) sebagai perwakilan perasaannya?”





- Gudang, rumah tua sebagai perwaikan perasaan kesendirian, kesunyian, dan kesepian.


Gudang mempunyai pencitraan sebuah tempat yang pengap, sepi, sunyi, tempat untuk menyimpan barang-barang yang sudah tidak terpakai lagi. Oleh karena itu, sangat jarang orang untuk memasuki gudang tersebut. Jika diibaratkan seseorang ada di dalam gudang dan rumah tua tersebut, tak ada sama sekali yang menemaninya, hanya kesendirian dan kesepian. Semua itu sama seperti apa yang juga dirasakan oleh si penyair, merasa sendiri dan kesepian.





- Gerimis mempercepat kelam sebagai perwakilan perasaan sedih.


Dalam realitanya, ketika kita dalam bepergian tiba-tiba turun gerimis (hujan deras) pastinya kita akan susah. Selain itu, ketika kita berusaha untuk mencari seseorang yang harus kita temukan tetapi sampai hari semakin larut pun belum juga ditemukan, pastinya akan sangat sedih. Realita itu sama halnya dengan perasaan penyair yang sedih karena belum menemukan cintanya.





- Kapal, perahu tiada berlaut sebagai perwakilan kesendirian dan tidak ada orang yang menolong


Kapal dan perahu dalam hal ini ibarat masyarakat sekitar yang tiada berlaut. Masyarakat diam, membisu, tak mau mengerti ataupun membantu atas apa yang dirasakan penyair. Semuanya tak mau “berlayar”. Seandainya saja kapal dan perahu mau berlaut (Seandainya saja masyarakat mau membantu), siapa tahu penyair bisa mencari dengan mengarungi lautan dan menemukan cintanya. Tapi pada akhirnya, penyair hanya bisa menyusuri semenanjung sepanjang laut bahkan laut ke empat yang pada akhirnya hanya “sedu penghabisan bisa terdekap”, hanya kesedihan yang dirasakan karena cinta pun tidak didapat.





Menghubungkan Isi Puisi dengan Sosial Budaya





Puisi yang dibuat oleh penyair sering kali diwarnai oleh kehidupan sosial budaya. Seperti yang telah dijelaskan di atas, dalam kaitannya dengan sosial, penyair kadang mewarnai isi-isi puisi dengan realita kehidupan sosial yang sedang terjadi sebagai bentuk kritikan. Selain itu, unsur-unsur budaya kerap kali tertulis dalam sajak-sajak yang dibuatnya.





Gambaran seorang penyair yang religius, mereka akan menuangkan ayat-ayat AL Quran ke dalam puisinya. Gambaran seorang penyair asli solo, mereka akan menuangkan kehidupan sosial budayanya ke dalam bentuk puisi.





Perhatikan contoh puisi berikut yang notabene ditulis oleh orang solo





Gelak tawa keramaian menusuk telinga


Bingar-bingar suasana di penghujung jalan


Diwarnai kelap-kelip cayaha sekaten


Tapi tak jua mengusik kesunyianku





Secara sekilas, isi puisi tersebut mempunyai makna seseorang yang merasa hatinya sunyi walapun sedang berada di tengah keramaian suasana sekaten.  Dalam puisi di atas, diwarnai kebudayaan sekaten yang mejadi budaya masyarakat Jawa Tengah.


Hubungannya apa penyair dengan sekaten?


Penyair mewarnai puisi-puisinya dengan kehidupan sosial budaya masyarakat Jawa Tengah sebab penyair itu sendiri hidup dan berasal dari Solo sehingga tak heran jika puisinya diwarnia dengan kata sekaten.





Contoh selanjutnya





SURAT CINTA





Wahai, Dik Narti


Dengan bunga-bunga dan keris keramat


Kuingin membimbing kau ke altar


Untuk dikawinkan


                                                                   (W.S. Rendra, 1959)





Kata panggilan Dik dalam petika puisi di atas tidak lepas dari kehidupan sosial budaya, dalam hal ini Jawa. Pemuda Jawa menggunakan panggilan dik untuk orang yang terkasih atau orang yang di bawah usianya. Kata-kata keris keramat juga merupakan gambaran budaya Jawa. Keris adalah senjata pusaka msyarakat Jawa yang sering dikeramatkan. Latar belakang keagamaan penyair, yang waktu itu masih Kristen, tergambar pula di dalamnya. Kata altar merupakan kata yang menyimbolkan suatu tradisi dalam agama Kristen.





Dalam kegiatan ini, kita harus tahu secara persis latar kehidupan sang penyair sehingga mampu menghubunglkan isi puisi dengan realitas sosial budaya.


Bagaimana kalau kita tidak tahu? Alternatifnya kita bisa menggunakan analisis kita yang masih sebatas dugaan. Dicirikan dengan kata “mungkin, sepertinya”.


Dicontohkan sebagia berikut.





Kata panggilan Dik dalam petika puisi di atas tidak lepas dari kehidupan sosial budaya, dalam hal ini Jawa. Pemuda Jawa menggunakan panggilan dik untuk orang yang terkasih atau orang yang di bawah usianya. Mungkin Rendra adalah salah satu penyair yang berasal dari Jawa, atau bisa juga sang penyair pernah mengamati kebiasaan sosial Jawa dan sangat tahu betul kehidupan sosial budaya masyarakat Jawa, sehingga tidak heran jika ia menuangkan kata-kata itu ke dalam puisinya. 




Anda sedang membaca artikel tentang Menghubungkan Isi Puisi dengan Realita Alam dan Sosial Budaya dan anda bisa menemukan artikel Menghubungkan Isi Puisi dengan Realita Alam dan Sosial Budaya ini dengan url http://naskahblog.blogspot.com/2013/03/menghubungkan-isi-puisi-dengan-realita.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Menghubungkan Isi Puisi dengan Realita Alam dan Sosial Budaya ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Menghubungkan Isi Puisi dengan Realita Alam dan Sosial Budaya sumbernya.

Add New Comment